Madagaskar Bukan Lagi Surga Evolusi

8:29 AM


Studi terbaru menyebut Madagaskar tidaklagi menghasilkan flora dan fauna jenis baru.





Pulau kecil di ujung bawah Benua Afrika itu disebut Madagaskar. Negara dengan luas 587.041 kilometer persegi yang selama ini dikenal sebagai surganya keanekaragaman hayati.
Meski hanya mewakili satu persen dari muka bumi, Madagaskar menjadi rumah bagi tiga persen hewan dan tumbuhan di dunia. Namun, studi terbaru menjelaskan bahwa perkembangan spesies flora dan fauna di pulau ini nyaris berakhir.
Dikatakan Daniel Scantlebury, mahasiswa S3 di bidang biologi, jumlah spesies yang hanya ditemukan di Madagaskar sangat banyak. "Tapi studi ini menunjukkan ada batasan terhadap jumlah spesies yang bisa ditampung suatu pulau, dan Madagaskar berada pada batas itu," ujar Scantlebury, Selasa (9/7).
Kesimpulan ini didapat Scantlebury setelah menganalisa catatan evolusi tujuh grup reptil dan amfibi yang ditemukan di penjuru Madagaskar. Termasuk bunglon kecil yang hanya sebesar biji korek dan beragam cicak.

Dengan membangun ulang pohon evolusi dan membandingkannya dengan usia relatif para spesies, ia menemukan adanya penurunan pembentukan spesies baru di Madagaskar sejak lokasi ini memisahkan dari super benua Gondwana, sekitar 90 juta tahun lalu.
Pola ini diperkirakan merupakan hasil dari radiasi adaptif. Di mana prinsip utamanya adalah organisme berkembang dengan cepat menjadi spesies baru dalam rangka mengambil keuntungan dari sumber daya yang ada di lingkungan kosong. Ketika evolusi mengisi ceruk itu dengan spesies baru, maka tingkat diversifikasi spesies akan memperlambat atau berakhir.
Menurut Scantlebury, beberapa studi awal mendukung teori radiasi adaptif ini. Di mana terjadi ledakan diversifikasi di antara grup flora dan fauna di hutan hujan.
"Studi saya melanjutkan ke level berikutnya dengan melihat penurunan berikutnya," kata Scantlebury yang hasil studinya akan dirilis pekan ini lewat jurnal Proceedings of the Royal Society B.
(AHM/NGI)