“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan ikhlas (memurnikan) ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama
yang lurus. Dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat.
Dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)
Ikhlas, dari asal pembentukan katanya berarti jernih dan telah hilang
kotorannya. Hakikat ikhlas adalah seorang hamba mengharapkan dengan
amalnya untuk bertaqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah subhanahu
wata’ala semata. Tiada sedikitpun niatan untuk riya’ dan sum’ah, atau mencari keuntungan duniawi. Oleh karenanya, al Qadhi Iyadh rahimahullah mengatakan, “Meninggalkan
amal karena manusia adalah riya’, mengerjakan amal untuk manusia adalah
syirik. Sedangkan ikhlas adalah menyelamatkanmu dari keduanya.” (Madarijus Salikin).
Urgensi ikhlas tidak diragukan lagi. Karena ikhlas adalah ruh setiap
amal shalih. Tanpa keikhlasan, maka seluruh amal akan sia-sia bagaikan
debu yang beterbangan tertiup angin. Sehingga ikhlas adalah amalan qalbu
yang paling utama dan mulia menurut konsensus para ulama.
Dalam ayat di atas, Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kaum
muslimin untuk ikhlas, memurnikan penghambaan dalam ketaatan kepadaNya
semata. Dalam bentuk pembatasan, bahwa manusia tidak diperintah kecuali
untuk mengikhlaskan ibadah, menunjukkan besarnya masalah ini.
Syaikh Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam tafsir beliau, “Meniatkan
seluruh ibadahnya yang lahir maupun batin untuk Allah subhanahu
wata’ala dan mendekatkan diri kepadaNya dengan sedekat-dekatnya.
Sekaligus berpaling dari semua agama yang bertentangan dengan tauhid.
Sehingga ikhlas dalam beribadah dan tauhid, itulah jalan lurus yang
menyampaikan kepada surga yang penuh dengan kenikmatan. Adapun selainnya
adalah jalan-jalan yang mengantarkan kepada neraka Jahannam.”
Salah satu bahaya terbesar yang mengancam keutuhan tauhid seorang hamba adalah riya’.
Yaitu seseorang beramal shalih dengan tujuan untuk mencari pujian,
sanjungan, dan penghormatan manusia. Demikian halnya perbuatan yang bisa
mencatat tauhid adalah seseorang yang beramal shalih dengan orientasi
dunaiawi. Ia tidak bertujuan untuk mendapat pujian manusia, namun
bertendensi meraih kenikmatan duniawi. Seperti misalnya berpuasa dengan
tujuan untuk memperlancar rezeki, shalat malam dengan tujuan untuk
meraup keuntungan berniaga, atau niatan lainya. Keduanya adalah penyakit
yang sangat berbahaya dan merugikan.
Begitu banyak ayat yang memberitakan tentang kerugian orang yang
beramal dengan orientasi dunia semacam ini. Allah subhanahu wata’ala
berfirman yang artinya,
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan atas perbuatan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang di akhirat tidak memperoleh kecuali neraka, serta lenyaplah apa yang telah mereka usahakan di dunia. Dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)
Para ulama telah memberikan kiat bagi seorang muslim untuk bisa
meraih ikhlas. Di antaranya adalah dengan memupus berbagai ambisi dan
ketamakan terhadap dunia dengan segala perhiasannya, serta mengusahakan
agar qalbu senantiasa fokus kepada akhirat. Hal ini akan sangat membantu
seseorang untuk menggapai keikhlasan. Betapa banyak orang yang bersusah
payah untuk beramal dengan melakukan pengorbanan yang tidak sedikit,
dan menyangka bahwa ia telah melakukannya dengan ikhlas, padahal ia
telah tertipu. Hal itu karena ia tidak memperhatikan perkara-perkara
yang bisa merusak keikhlasan, kemudian menjauhinya.
Selain itu, hendaknya seorang muslim mengambil pelajaran dari petuah
para ulama salaf dalam hal keikhlasan. Maka akan kita dapatkan untaian
nasihat yang besar peranannya dalam membantu mewujudkan keikhlasan.
Misalnya perkataan Ya’kub rahimahullah, “Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya.” Ayyub as Sikhtiyani rahimahullah mengatakan, “Mengikhlaskan niat bagi orang-orang yang beramal lebih sulit daripada melakukan seluruh amalan.” Dan nasihat para salaf yang semakna sangat banyak.
Dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwa ikhlas inilah agama yang
lurus. Bahkan Allah tekankan sekaligus dengan dua kata yang berbeda
namun maknanya sama. Hunafa dan dinul qayyimah.
Apalagi pada awal ayat Allah telah membatasi inilah satu-satunya
perintah untuk manusia. Dan ayat dalam al Qur’an yang semakna sangat
banyak. Maka cukuplah hal ini menegaskan pentingnya keikhlasan.
Perjuangan untuk mengikhlaskan niat adalah perkara yang berat. Hal
itu tidak akan terwujud kecuali dengan pertolongan Allah subhanahu
wata’ala dan usaha yang maksimal dari setiap muslim. Selamat berjuang
untuk mewujudkan keikhlasan dan membersihkannya dari segala hal yang
bisa merusak atau melenyapkannya. (Abu Hafiy)
Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 16 vol. 02 tahun 1433 H/ 2012 M